Manusia Harus Salah dan Gagal
Kesalahan merupakan hal
yang paling di hindari semua manusia. Apalagi kegagalan, ini merupakan yang
sangat ditakutkan setiap manusia yang akan memulai sesuatu. Manusia cenderung
lebih menginginkan segala sesuatunya
berjalan dengan sempurna. Seolah lupa kesempurnaan adalah kemustahilan yang
yang dipunyai manusia.
Setiap manusia mendesain segala sesuatu sedemikian rupa
demi menghindari kesalahan dan kegagalan. Keduanya seolah musuh yang harus disingkirkan
dalam setiap kehidupan. Kita lupa bahwa keduanya memiliki peran sangat penting
terhadap proses pembentukan pribadi manusia itu sendiri. Dalam setiap hal apapun
yang kita kerjakan atau apaun yang menjadi goals kita, kesalahan dan kegagalan
sangat kita butuhkan. Keduanya ini yang akan seamakin membuat kita kuat dalam
menuju goals kita. Keduanya ini yang akan semakin menguji kita sebagai seorang
yang akan benar-benar menjadi manusia.
Mengapa kesalahan dan kegagalan harus dialami seorang
manusia? Mengapa keduanya adalah hal yang harus kita jumpai lebih dulu daripada
apa yang kita goals-kan? Jawabannya sederhana, karena kita sangat butuh
keduanya. Ya, kita memerlukan keduanya untuk bisa membentuk pribadi kita
menjadi lebih kuat. Saya bisa mengatakan bahwa ketika kita mepunyai goals
apapun, jangan dulu membayangkan kesuksesan– tapi bayangkan dulu kita akan
gagal. Mengapa demikian? Karena dengan membayangkan diri kita akan gagal,
secara tidak langsung kita akan kuat menghadapi apapun hasilnya, entah berhasil
apalagi gagal. Kita akan lebih siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Saya punya pengalaman mengenai hal semacam ini. Ketika
saya terpilih sebagai perwakilan daerah saya untuk mengikuti Kejuaran Nasional
Taekwondo. Perlu di ingat, itu adalah kejuaran pertama saya selama saya masuk
bela diri ini. Saya begitu semangat dan optimis dengan diri saya. Latihan
merupakan makanan setiap hari saya, tanpa mengenal yang namanya lelah. Dengan
semua yang saya punya, saya sangat optimis dan yakin tentang apa yang akan saya
dapatkan. Saya merasa sayalah yang
terbaik di kelas saya ketika itu, -45 kg. Dan kalian tahu apa yang saya
targetkan? Ya, sesuai dugaan kalian. Saya menargetkan medali emas. Sesuatu yang
sangat tidak masuk akal, dengan saya yang baru pertama ikut dalam sebuah kejuaraan,
apalagi tingkat Nasional. Gila. Ya, itulah saya ketika itu yang telah mabuk
akan kalimat motivasi dan optimis tentang kesuksesan dan kebahgiaan.
Kejuaran selesai, dan kontingen kami membawa beberapa
medali. Jangan tanyakan saya, saya sedang sibuk dengan kekecewaan kala itu.
Ketika teman saya yang lain sedang sibuk dengan foto bersama medali mereka,
saya sedang duduk murung bersama “motivasi” dan “optimis” saya tadi. Saya
terlalu merasa akan sukses membawa pulang medali. Padahal pada kenyataanya baru
satu match saya sudah kalah. Ah, sebuah pengalaman yang malu jika di ingat
kembali. Sebuah kejadian yang akhirnya membuat saya berhenti dari bela diri ini–karena
kekecewaan akan ekspektasi kesuksesan tadi. Begitulah yang terjadi ketika kita
sangat berharap dengan kesuksesan. Kita menjadi orang yang tidak siap ketika
gagal. Kita akan terus-menerus mengutuk diri kita dan mulai berandai-andai,
“mengapa tadi saya tidak begini?” dan mengapa-mengapa lainnya. Padahal jika saja
ketika itu saya sedikit lebih kuat dan melanjutkan terus dalam bela diri ini,
mungkin kesuksesan itu akan datang (walaupun harus meraskan banyak lagi
kegagalan berikutnya).
Manusia
memang membutuhkan kesalahan dan kegagalan. Untuk menjadi apapun yang kita mau,
kita harus mersakan keduanya. Saya teringat sebuah kalimat dari buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodoh Amat yang
ditulis Mark Manson : “Ketika seseorang lebih mahir daripada Anda tentang
sebuah hal, itu berarti dia lebih banyak gagal daripada Anda”. Untuk menjadi
seorang yang bisa berada di beberapa puncak gunung tertinggi, kita harus siap
pulang kembali karna cuaca tidak baik. Untuk menjadi seorang penulis hebat,
kita harus siap tidak punya ide, diserang malas, ditolak penerbit, buku tidak
laku, dan masih banyak lagi kegagalan-kegagalan yang menanti kita dalam
mencapai apaun yang kita inginkan. Dengan keduanya kita akan akan bisa menjadi
lebih baik lagi dari versi diri kita (walaupun mustahil akan sempurna). Kita
hanya perlu merasakan gagal dan salah sekali atapun lebih baik berkali-kali. Dengan demikin,
menurut saya kegagalan serta kesalahan menjadi semacam pintu yang harus kita
buka satu per satu utntuk menuju ruangan bernama kesuksesan.
Coba
kita perhatikan, bukankah J.K Rowling ditolak penerbit sebanyak 12 kali ketika
hendak menerbitkan buku Harry Potter, sehingga akhirnya menjadi buku best
seller dan di jadikan film yang hampir semua orang menontonnya? Bukankah Jack
Ma 30 kali ditolak melamar pekerjaan dan kemudian akhirnya mendirikan Alibaba? Dan bukankah
kolonel Sanders mendengar 1009 kali kata “tidak” ketika menawarkan resepnya, sampai
akhirnya munculah KFC? Dengan mengakui kita salah, bukankah kita jadi lebih
mudah untuk memperbaikinya? Dengan mengakui kita banyak salah dan dosa bukankah
kita lebih khusyuk bermunajat pada Tuhan? Dengan banyak salah ketika kita
pertama kali diajari Ibu berbicara, bukankah menjadikan kita seorang yang
lancar berbicara, bahkan bisa beradu argumen dengan Ibu kita? Dengan mengakui
kita salah pada Ibu Bapak kita, bukankah akan lebih tulus kita meminta maaf pada
mereka, walapun harus berlinang air mata sekalipun. Dengan kesemuanya ini,
manusia memang perlu untuk gagal dan perlu untuk salah.
Salah dan gagal. Keduanya memang dibutuhkan.
Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk membuat kita terus-menerus gagal
dan salah. Tapi saya berusaha menunjukkan bahwa kesalahan dan kegagalan merupakan
kebutuhan kita. Kita butuh keduanya untuk bisa lebih baik dan kuat, demi
mengejar apa yang menjadi goals kita.

🔥🔥
BalasHapusMemgispirasi tulisanmu. Novel saya sudah sering di tolak penerbit. Baca ini langsung semangat lagi.
BalasHapussiap. Terus menulis
Hapus